1.
Identitas
Judul
buku: Salah Asuhan
Penulis:
Abdoel Moeis
Pengarang:
Tim Editor Balai Pustaka
2.
Kepengarangan
Abdul
Muis adalah seorang Minangkabau, putra Datuk Tumangguang Sutan
Sulaiman. Ayahnya merupakan seorang demang yang keras menentang kebijakan
Belanda di dataran tinggi Agam. Selesai dari ELS, Abdul Muis
melanjutkan pendidikannya ke Stovia (sekolah
kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta. Namun
karena sakit, ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sana. Pada
tahun 1913 ia bergabung dengan Sarekat Islam, dan menjadi Pemimpin Redaksi Harian
Kaoem Moeda. Setahun
kemudian, melalui Komite Bumiputera yang didirikannya bersama Ki Hadjar Dewantara, Abdul
Muis menentang rencana pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan
seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis.
Pada
tahun 1920, dia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh
Pegadaian. Setahun kemudian ia memimpin pemogokan kaum buruh di Yogyakarta. Tahun 1923 ia mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Disana ia mengundang para penghulu
adat untuk bermusyawarah, menentang pajak yang memberatkan masyarakat
Minangkabau. Berkat aksinya tersebut ia dilarang berpolitik. Selain itu ia juga
dikenakan passentelsel, yang melarangnya tinggal diSumatera Barat dan
keluar dari Pulau Jawa.
Kemudian
ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Di kota ini ia menyelesaikan novelnya yang cukup
terkenal : Salah Asuhan. Tahun 1926 ia terpilih menjadi anggota Regentschapsraad
Garut. Dan enam tahun kemudian diangkat menjadiRegentschapsraad Controleur. Jabatan itu diembannya hingga
Jepang masuk ke Indonesia (1942).Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan
Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda. Tahun 1959 ia wafat dan dimakamkan di TMP Cikutra,
Bandung
Banyak
yang sudah meengetahui karya-karya beliau yaitu, Salah Asuhan (novel
1928, difilmkan Asrul Sani 1972),
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan
judul Never the Twain oleh Lontar Foundation sebagai
salah satu seri Modern
Library of Indonesia, Pertemuan Jodoh (novel
1933), Surapati (novel
1950), Robert Anak Surapati(novel
1953).
3. Sinopsis
Hanafi adalah seorang
amak pribumi yang berasal dari Solok. Ibu Hanafi adalah seorang janda, yang
suaminya sudah meninggal semenjak Hanafi masih kecil. Ibu Hanafi sangat
menyayanginya. Selama hanafi bersekolah di Betawi, Hanafi dititipkan
kepada keluarga Belanda, Setelah lulus sekolah di HBS, pergaulannya pergaulan
Hanafi tidak jauh dari orang Belanda. juga tidak lepas dari orang-orang Eropa,
karena ia bekerja di Kantor BB sebagai asisten residen di Solok. Hanafi dekat
dengan gadis eropa yang bernama Corrie. Dalam kesehariannya Hanafi dan Corrie
memanglah sangat dekat. Mereka sering main tenis bahkan duduk-duduk sambil
menikmati segelas teh pun juga berdua.
Karena hubungan mereka
sangat amat dekat, maka Hanafi memiliki rasa yang berbeda dengan Corrie. Hanafi
sayang kepada Corrie, melainkan rasa sayang sebagai pacar. Sikap Corrie kepada
Hanaffi juga masih nampak seperti biasanya. Hingga akhirnya Hanafi memberanikan
diri untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Corrie. Namun ketika Hanafi
mengungkapkan isi hatinya, Corrie tidak langsung memberi jawaban kepada Hanafi,
melainkan segera berpamitan pulang dengan alasan yang tidak jelas. Keesokan
harinya, Corrie pergi meninggalkan Solok menuju Betawi.
Corrie menirimkan surat
kepada Hanafi yang isinya penolakan secara halus mengenai pernyataan Hanafi
pada tempo hari. Corrie tidak mungkin menerima Hanafi, karena perbedaan budaya
antara bangsa melayu dengan bangsa eropa. Selain itu Corrie juga ditentang oleh
ayahnya jika menikah dengan orang melayu. Karena penolakan tersebut, Hanafi
jatuh sakit selama beberapa hari.
Selama
Hanafi sakit, dia dirawat oleh ibunya. Lalu ibunya membujuknya supaya Hanafi
menikah dengan Rapiah adalah anak mamak, Sultan Batuah. Hanafi dijodohkan dengan
Rapiah dikarenakan Ibu Hanafi berhutang budi kepada Sultan Batuah. akhirnya
Hanafi menerima perjodohan itu, meskipun dengan berat hati. Dua tahun sudah
usia pernikahan Hanafi dan Rupiah, dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki
yang bernama Syafei. Setiap hari Hanafi selalu memarahi istrinya karena hal
yang sepele. Namun Rapiah hanya diam dan tidak pernah melawan semua perlakuan
suaminya. Ibunya mengetahui kelakuan
Hanafi, Hanafi pergi menemui Corrie, setelah bertemu dengan Corrie, akhirnya
mereka menikah. Setelah menikah, rumah tangga mereka mengalami masalah,
Corrie dituduh selingkuh dengan pedagang emas. Corrie mencari
kerja, namun tidak ada tempat yang menerimanya, dan akhirnya ada Panti Asuhan
yang menerimanya. Tidak lama kemudian, Corrie jatuhsakit, Hanafi pergi mencari
Corrie, ada orang yang memberi tau kepada Hanafi bahwa Corrie tinggal di Panti
Asuhan. Akhirnya, Hanafi bertemu dengan Corrie. Didetik-detik terakhir Corrie,
ia memberi pesan kepada Hanafi, bahwa Hanafi harus kembali kepada isterinya,
dan akhirnya Corrie meninggal dunia. Lalu Hanafi kembali kepada isterinya,
namun isterinya tidak menerima ia
kembali. Dan pada akhirnya, Hanafi jatuh sakit akibat mengenang Corrie. Ia
sudah dibawa ke dukun, tapi tidak bisa lupa dengan Corrie. Akhirnya Hanafi
meninggal. Tetapi ia tidak diizinkan untuk dimakamkan dikampung halamannya,
maka dia dimakamkan di kampong kakeknya.
4.
Unsur
Intrinsik
Tema
Perbedaan adat
Tokoh dan Penokohan
Hanafi, keras kepala, kasar
“Corrie , dari
kecil kita sudah bergaul, cinta yang timbul dari pergaulan serupa itu memang
menerima secara adanya saja dan tidak lagi berkehendak secara mestinya.
Bukanlah aku tertawan pada elok parasmu, melainkan asyiklah aku mencintai
engkau,karena—engkau!!” (dikutip hal 132 par 2)
Corrie, baik, rendah hati
“Perkawinan yang
terikat oleh cinta itu saja, mudah putusnya, Han! Karena cinta itu tidak boleh
habis. Ketahuilah olehmu bahwa bermula engkau bercita-cita hendak meminta aku
jadi istrimu, maka yang terlebih kurasai atas dirimu ialah kasihan. Kasihan
yang tak terhingga. (dikutip hal 139 par 5)
Rapiah, sabar dan baik
“ sudah kedelapan kali kamis ini aku
berpuasa sunat,ibu ,dan selama itu pula ayah syafei meninggalkan kita. (dikutip
hal 112).
Syafei, berani
Tuan De Busse, tegas
ibunya Hanafi, baik, sabar, penyayang
“Apakah
perlunya orang tua buruk kampung totok ini dating ke Betawi. Hendak
merendah-rendahkan martabat dan derajatnya saja.” (dikutip hal 124-125
Latar
Tempat
Lapangan tenis, “tempat bermain tenis yang dilindungi oleh pohon
yang rimbun” hal 1, paragraph 1
Solok, “maka tiadalah ia segan mengeluarkan uang untuk menigisi
rumah di Solok” hal 23 paragraf 4
Betawi, “sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan Merah”
hal 103 paragraf 2
Waktu
Petang, “setiap petang berkumpullah mereka dilapangan tenis” hal
11 paragraf 2
Malam hari, “semalam-malaman Corrie tidak merasa tidur nyenyak”
hal 33 pargraf 1
Suasana
Mengharukan,
5.
Unsur
Ekstrinsik
Nilai budaya, pemuda yang mencintai gadis berkewarganegaraan asing
tidak dapat menikahi Corrie.
6.
Kelebihan
Menarik untuk dibaca, memberikan amanat kepada si pembaca
7.
Kelemahan
Kata-katanya susah dimengerti, menggunakan bahasa daerah yang
sulit dimengerti