Jumat, 18 November 2016

Novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis



1.      Identitas
Judul buku: Salah Asuhan
Penulis: Abdoel Moeis
Pengarang: Tim Editor Balai Pustaka

2.      Kepengarangan
Abdul Muis adalah seorang Minangkabau, putra Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman. Ayahnya merupakan seorang demang yang keras menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam. Selesai dari ELS, Abdul Muis melanjutkan pendidikannya ke Stovia (sekolah kedokteran, sekarang Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), Jakarta. Namun karena sakit, ia tidak menyelesaikan pendidikannya di sana. Pada tahun 1913 ia bergabung dengan Sarekat Islam, dan menjadi Pemimpin Redaksi Harian Kaoem Moeda. Setahun kemudian, melalui Komite Bumiputera yang didirikannya bersama Ki Hadjar Dewantara, Abdul Muis menentang rencana pemerintah Belanda mengadakan perayaan peringatan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis.  
Pada tahun 1920, dia terpilih sebagai Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian. Setahun kemudian ia memimpin pemogokan kaum buruh di Yogyakarta. Tahun 1923 ia mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Disana ia mengundang para penghulu adat untuk bermusyawarah, menentang pajak yang memberatkan masyarakat Minangkabau. Berkat aksinya tersebut ia dilarang berpolitik. Selain itu ia juga dikenakan passentelsel, yang melarangnya tinggal diSumatera Barat dan keluar dari Pulau Jawa.
Kemudian ia diasingkan ke Garut, Jawa Barat. Di kota ini ia menyelesaikan novelnya yang cukup terkenal : Salah Asuhan. Tahun 1926 ia terpilih menjadi anggota Regentschapsraad Garut. Dan enam tahun kemudian diangkat menjadiRegentschapsraad Controleur. Jabatan itu diembannya hingga Jepang masuk ke Indonesia (1942).Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda. Tahun 1959 ia wafat dan dimakamkan di TMP Cikutra, Bandung
Banyak yang sudah meengetahui karya-karya beliau yaitu, Salah Asuhan (novel 1928, difilmkan Asrul Sani 1972), diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Robin Susanto dan diterbitkan dengan judul Never the Twain oleh Lontar Foundation sebagai salah satu seri Modern Library of Indonesia,  Pertemuan Jodoh (novel 1933), Surapati (novel 1950), Robert Anak Surapati(novel 1953).
3.      Sinopsis
Hanafi adalah seorang amak pribumi yang berasal dari Solok. Ibu Hanafi adalah seorang janda, yang suaminya sudah meninggal semenjak Hanafi masih kecil. Ibu Hanafi sangat menyayanginya. Selama hanafi bersekolah di Betawi, Hanafi dititipkan kepada keluarga Belanda, Setelah lulus sekolah di HBS, pergaulannya pergaulan Hanafi tidak jauh dari orang Belanda. juga tidak lepas dari orang-orang Eropa, karena ia bekerja di Kantor BB sebagai asisten residen di Solok. Hanafi dekat dengan gadis eropa yang bernama Corrie. Dalam kesehariannya Hanafi dan Corrie memanglah sangat dekat. Mereka sering main tenis bahkan duduk-duduk sambil menikmati segelas teh pun juga berdua.
Karena hubungan mereka sangat amat dekat, maka Hanafi memiliki rasa yang berbeda dengan Corrie. Hanafi sayang kepada Corrie, melainkan rasa sayang sebagai pacar. Sikap Corrie kepada Hanaffi juga masih nampak seperti biasanya. Hingga akhirnya Hanafi memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Corrie. Namun ketika Hanafi mengungkapkan isi hatinya, Corrie tidak langsung memberi jawaban kepada Hanafi, melainkan segera berpamitan pulang dengan alasan yang tidak jelas. Keesokan harinya, Corrie pergi meninggalkan Solok menuju Betawi.
Corrie menirimkan surat kepada Hanafi yang isinya penolakan secara halus mengenai pernyataan Hanafi pada tempo hari. Corrie tidak mungkin menerima Hanafi, karena perbedaan budaya antara bangsa melayu dengan bangsa eropa. Selain itu Corrie juga ditentang oleh ayahnya jika menikah dengan orang melayu. Karena penolakan tersebut, Hanafi jatuh sakit selama beberapa hari. 
Selama Hanafi sakit, dia dirawat oleh ibunya. Lalu ibunya membujuknya supaya Hanafi menikah dengan Rapiah adalah anak mamak, Sultan Batuah. Hanafi dijodohkan dengan Rapiah dikarenakan Ibu Hanafi berhutang budi kepada Sultan Batuah. akhirnya Hanafi menerima perjodohan itu, meskipun dengan berat hati. Dua tahun sudah usia pernikahan Hanafi dan Rupiah, dan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Syafei. Setiap hari Hanafi selalu memarahi istrinya karena hal yang sepele. Namun Rapiah hanya diam dan tidak pernah melawan semua perlakuan suaminya. Ibunya mengetahui kelakuan Hanafi, Hanafi pergi menemui Corrie, setelah bertemu dengan Corrie, akhirnya mereka menikah. Setelah menikah, rumah tangga mereka mengalami masalah,
Corrie dituduh selingkuh dengan pedagang emas. Corrie mencari kerja, namun tidak ada tempat yang menerimanya, dan akhirnya ada Panti Asuhan yang menerimanya. Tidak lama kemudian, Corrie jatuhsakit, Hanafi pergi mencari Corrie, ada orang yang memberi tau kepada Hanafi bahwa Corrie tinggal di Panti Asuhan. Akhirnya, Hanafi bertemu dengan Corrie. Didetik-detik terakhir Corrie, ia memberi pesan kepada Hanafi, bahwa Hanafi harus kembali kepada isterinya, dan akhirnya Corrie meninggal dunia. Lalu Hanafi kembali kepada isterinya, namun  isterinya tidak menerima ia kembali. Dan pada akhirnya, Hanafi jatuh sakit akibat mengenang Corrie. Ia sudah dibawa ke dukun, tapi tidak bisa lupa dengan Corrie. Akhirnya Hanafi meninggal. Tetapi ia tidak diizinkan untuk dimakamkan dikampung halamannya, maka dia dimakamkan di kampong kakeknya.

4.      Unsur Intrinsik
Tema
Perbedaan adat
Tokoh dan Penokohan
Hanafi, keras kepala, kasar
“Corrie , dari kecil kita sudah bergaul, cinta yang timbul dari pergaulan serupa itu memang menerima secara adanya saja dan tidak lagi berkehendak secara mestinya. Bukanlah aku tertawan pada elok parasmu, melainkan asyiklah aku mencintai engkau,karena—engkau!!” (dikutip hal 132 par 2)
Corrie, baik, rendah hati
“Perkawinan yang terikat oleh cinta itu saja, mudah putusnya, Han! Karena cinta itu tidak boleh habis. Ketahuilah olehmu bahwa bermula engkau bercita-cita hendak meminta aku jadi istrimu, maka yang terlebih kurasai atas dirimu ialah kasihan. Kasihan yang tak terhingga. (dikutip hal 139 par 5)
Rapiah, sabar dan baik
“ sudah kedelapan kali kamis ini aku berpuasa sunat,ibu ,dan selama itu pula ayah syafei meninggalkan kita. (dikutip hal 112).
Syafei, berani
Tuan De Busse, tegas
ibunya Hanafi, baik, sabar, penyayang
“Apakah perlunya orang tua buruk kampung totok ini dating ke Betawi. Hendak merendah-rendahkan martabat dan derajatnya saja.” (dikutip hal 124-125
Latar
Tempat
Lapangan tenis, “tempat bermain tenis yang dilindungi oleh pohon yang rimbun” hal 1, paragraph 1
Solok, “maka tiadalah ia segan mengeluarkan uang untuk menigisi rumah di Solok” hal 23 paragraf 4
Betawi, “sekarang kita ambil jalan Gunung Sari, Jembatan Merah” hal 103 paragraf 2
Waktu
Petang, “setiap petang berkumpullah mereka dilapangan tenis” hal 11 paragraf 2
Malam hari, “semalam-malaman Corrie tidak merasa tidur nyenyak” hal 33 pargraf 1
Suasana
Mengharukan,
5.      Unsur Ekstrinsik
Nilai budaya, pemuda yang mencintai gadis berkewarganegaraan asing tidak dapat menikahi Corrie.
6.      Kelebihan
Menarik untuk dibaca, memberikan amanat kepada si pembaca
7.      Kelemahan
Kata-katanya susah dimengerti, menggunakan bahasa daerah yang sulit dimengerti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar